-AKU ADALAH KATA TAK BERMAKNA-

Posted on

Aku adalah kata tak bermakna
Keluar dari bibir penghianat yang licin

Aku adalah kata tak bermakna
mewangi telinga memanja dada
menulikan dan menghancurkan di esok hari

Aku adalah kata tak bermakna
pedang pelindung pahlawan
juga pembunuh manusia

Aku adalah kata tak bermakna
terbang sebagai kupu-kupu
hinggap sebagai ulat

Aku adalah kata tak bermakna
cahaya yg menyilaukan membuat mata terpejam
hingga tak melihat warna

Aku adalah kata bermakna dusta

Yogya, 13/07/2013

DO’A VERBAL, DO’A NON VERBAL, DO’A STYLE, DLL

Posted on

Sore hari adalah waktunya ongkang-ongkang bagi penghuni “Wisma Mbangkong”. Seonggok rumah mungil di pojokan gang yang dikontrak oleh mahasiswa-mahasiswa tukang mbangkong alias tukang tidur.

Sore itu Dul Pekok, Dul Keprok, Dul Kempong, Dul Butun bermalas-malasan sambil mendengarkan televisi yang ada di ruang tamu wisma mbangkong. Mendengarkan televise. Hanya mendengarkan bukan melihat dan mendengarkan, karena mata mereka setia memelototi kertas-kertas persegi panjang agak tebal seukuran telapak tangan. Kartu poker.

“Untuk mencapai tujuan kita, selain kita harus berikhtiar untuk mencapainya kita juga harus rajin berdoa kepada Allah. Barang siapa yang berikhtiar tanpa berdoa kepada Allah berarti ia adalah orang yang sombong. Dan barang siap yang berdoa tanpa berikhtiar, omong kosong” sabda televisi.

“Kalau begitu kedudukan ikhtiar dalam mencapai tujuan lebih penting dari pada doa” kata Dul Keprok mengomentari televisi.

“Mungkin” timbal Dul Butun sekenanya, ia tak begitu tertarik meladeni omongan Dul Keprok.

“jika masalah ini ditarik kedalam mesin berfikir kita dan menggodognya dengan logis, berikhtiar dengan tindakan yang tepat, efisien, efisien dan berlandaskan pada strategi yang matang, tanpa berdo’a pun prosentase keberhasilannya akan tinggi, walau pun tetap masih ada ruang kemungkinan. Sedangkan kalau kita hanya berdo’a tanpa berusaha tujuan kita tak mungkin terwujud” Dul Keprok melanjutkan komentarnya.

“Mbuh ah” timpal Dul Kempung ketus. Konsentrasinya pada poker buyar karena ocehan Dul Keprok. Gara-gara konsentrasinya buyar Dul Kempung terancam kalah dalam permainan kartu. Sebenarnya dia terancam kalah karena diantara yang lainnya dia yang paling tidak berbakat. Kalaupun toh konsentrasi penuh, menang pun jarang.

“Aku menang” teriak Dul Pekok tiba-tiba. “Bagi orang yang memeluk agama tuhanlah yang menyuruh mereka untuk berdo’a.  Dalam islam Allah menyuruh umatnya untuk berdo’a hal ini tercantum dalam Al-Qur’an yang ayatnya sudah biasa kita dengar “Ud’uuni astajib lakum”. Untuk membahas apa yang Dul Keprok katakan terlebih dahulu kita harus memetakan permasalahan yang akan kita bahas. Dalam hal hubungan antara do’a dan ikhtiar yang dipermasalahkan Dul Keprok terdapat do’a, ikhtiar, dan lebih penting manakah antara doa dan ikhtiar. Sampai sini kita dapat mengajukan pertanyaan, pertama, apa yang dimaksud do’a dan ikhtiar?. Kedua, lebih penting manakah antara keduanya?.

Jawaban dari keduanya dalam pandangan saya adalah, pertama, kalau ada orang mengucapkan kata do’a atau mendengar, konsep yang terbayang dalam benak adalah memohon kepada tuhan. Ini adalah konsep yang terbayang oleh kebanyakan orang, yang indikator visualnya adalah menengadahkan kedua tangan sembari memohon sesuatu kepada tuhan. Jika tidak demikian bukan do’a namanya. Orang kebanyakan menganggap sholat bukanlah doa. Sholat ya sholat, berdo’a ya berdo’a, padahal hampir keseluruhan bacaan di dalam sholat adalah do’a. Seperti halnya istighfar, istighfar bukanlah do’a tapi dzikir, padahal intinya mohon ampun. Yah, seperti inilah cara berfikir orang kebanyakan. Dalam pandangan saya do’a adalah memohon sesuatu kepada tuhan untuk dikabulkan, bentuk cara permohonan itu bisa berbeda-beda, tidak hanya menggunakan perkataan-perkataan. Kita memohon dengan menggunakan bahasa kita itu adalah doa, aku mengistilahkannya sebagai do’a verbal. Kita berangkat sekolah atau kuliah, berangkatnya kita kesekolah itu adalah bentuk do’a kita untuk diberi ilmu pengetahuan. Proses pencangkulan tanah oleh para petani itu adalah do’anya mereka untuk diberi kehidupan, aku mengistilahkannya sebagai do’a praktis, atau orang kebanyakan lebih suka menyebutnya sebagai ikhtiar, tapi menurutku ikhtiar itu adalah salah satu bentuk dari do’a. Jadi, do’a tidak hanya sebatas “kata-kata” permohonan, “perbuatan” juga termasuk do’a. Kalau kita perlebar lagi wilayahnya “style” kita pun adalah doa. Bahkan nama yang diberikan orang tuamu adalah do’a untukmu.

Untuk pertanyaan kedua, lebih penting manakah antara do’a dan ikhtiar? Jawabnya, tidak ada yang lebih penting dari keduanya, karena keduanya termasuk do’a. “Ikhtiar” dalam pengertian orang kebanyakan adalah “do’a” yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Kalau kalian ajukan pertanyaan lanjutan, lebih penting manakah “do’a kata-kata” daan “do’a perbuatan”? Do’a perbuatan lebih penting. Mengapa? Ah, kalian sudah tahu jawabnya”.

Yogya, 18 Nov 2012

APA KEMURNIAN ADA?

Posted on

Mereka berlari menuju kehendak.Sudah pasti, hanya kehendak yang mereka tuju. Walau mulut berbusa kebaikan dan keindahan. Karena itu, aku selalu ragu akan kemurnian. Apa kemurnian ada?

CERITA EMBUN

Posted on

Pagi ini akan ku ceritakan tentang setitik embun

Yang sendiri dipangku cantiknya mawar

Dan pagi yang bersama embun

Angin semilir menari lirih sedang

Mengurai senyum pada semua yang memandang

Ia bahagia

Rumput mengiring tarian angin penuh sahaja

Bersuka cita dalam damai

Tanah bumi pun bersuka

Memberi restu pada yang berpijak

Langit

Membuka seluruh kerudungnya

Matahari

Cantik dalam hangatnya

Semua cerah

Semua Terang

Semua Bahagia

Berhasil lupa akan duri kehidupan yang mencocok ketenangan

Tapi

Kemilau tak tampak pada embun

Cerah tak merona diwajahnya

Aroma terang tak terhembus dalam nafasnya

Gelisahnya sampai pada semua

Semua bertanya

“mengapa kau tak berkilau?”

“tak ada kilauku, karena tak lama lagi aku akan mengudara

Tersisa udara dalam angin

Tak ada aku

Hanya angin

Aku hilang”

Jawab embun sedih

Semua menunduk untuknya

Cerita embun menggugah kenanganku tentang kawan

Yang duduk sendiri dalam lamunnya

Matanya berpijak pada kekosongan

Kekosongan yang hanya didiami seseorang yang dulu selalu di sampingnya

Dieng, 15 Agustus 2012

BERSYAHADAT DENGAN UNDUR-UNDUR

Posted on

Kira-kira matahari sudah seperempat jalan menapaki langit. Sengatan matahari mulai terasa membakar di kulit. Sudah empat hari ini Dul Pekok main di rumah Dul Gembul. Bagi manusia macam Dul Pekok main dan sekaligus bermalam di rumah teman bukan hanya sekedar silaturrahim tapi juga nyambung nyowo. Maklum, dia masih bocah yang hidup jauh dari orang tua dan masih menadahkan tangan pada mereka. Belum becus mencari nasi dengan keringatnya. Dia hanya becus mlungker sehari semalam tanpa terbangun. Hebat. Hanya sedikit orang mampu melakukannya. Manusia langka macam ia perlu dimusiumkan.

“temanmu itu sedang apa?” tanya seorang wanita setengah baya pada Dul Gembul sambil menatap Dul Pekok dengan mimik heran dari beranda rumah.

“biarin saja Bu, orang aneh macam dia jangan terlalu dipikir. Marai ngelu dewe”. Jawab Dul Gembul.

“ya sudah, suruh masuk temanmu sarapannya sudah siap” sahut wanita itu yang tak lain adalah ibu Dul Gembul sambil masuk ke dalam rumah.

“Dul, ayo masuk sarapannya dah siap nih” teriak Dul Gembul.

“ngapain kamu jongkok di bawah pagar?” tanya Dul Gembul pada Dul Pekok ketika sudah dekat

“Dolanan undur-undur”  jawab Dul Pekok.

Koyo cah cilik wae” semprot Dul Gembul.

Koyo kan gak podo” sanggah Dul Pekok. “anak kecil melihat undur-undur sebagai hewan yang unik, lucu, dan memainkannya membuat mereka senang. Sedangkan aku ketika melihat undur-undur mataku melihatnya sebagai hewan yang unik yang gak bisa berjalan maju. Akalku melihatnya sebagai hewan yang di dalamnya terdapat mekanisme jalinan saraf yang tak lazim. Jika yang dimaksud lazim adalah apa yang praktekkan manusia. Dan hati saya melihat ada campur tangan tuhan dalam tubuh hewan itu. Ada cinta tuhan yang ditaburkan di tanah. Inilah bedanya aku dengan anak kecil. Anak kecil hanya melihat dengan matanya sedangkan aku melihat dengan mata, akal, dan hati. Dengan menggunakan tiga macam pendekatan tersebut dalam melihat dan memahami realita kita akan memperoleh gambaran utuh. Dan juga.” Lanjut Dul Pekok.

Stop, teruske ngko madang disek selak adem segone” potong Dul Gembul.

“Okey boy”

Dul Pekok makan pagi bersama keluarga Dul Gembul. Menurut Dul Pekok warung makan yang paling enak masakannya pun masih kalah dengan masakan ibunya Dul Pekok, karena makanan made in Dul Gembul’s Mother diberi bumbu yang paling lezat di dunia versi Dul Pekok. Yaitu GRATIS.

Selesai makan Dul Gembul menanyakan lanjutan dari kata-kata Dul Pekok yang sempat ia potong. Ia penasaran karena apa yang keluar dari mulut Dul Pekok tak bisa ditebak, terkadang dalam suasana serius ngmongnya tidak serius sedangkan dalam bercanda ia bicara serius. Dan apapun yang akan dikatakan Dul Pekok biasanya berhasil membuat orang-orang disekelilingnya penasaran. Termasuk Dul Gembul kali ini.

“dan juga apa tadi? Lanjutan dari kata-katamu yang sempat aku potong”  tanya Dul Gembul.

“dan juga apa yang saya lakukan tadi adalah metodologi atau thoriqah saya dalam bersyahadat” jawab Dul Gembul.

“maksudnya?” tanya Dul Gembul tidak faham.

“Bersyahadat adalah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Jika saya mengakui tiada tuhan selain Allah berarti saya juga harus mengakui langit dan bumi karena keduanya adalah ciptaanNya. Begitu juga dengan undur-undur. Apakah saya bisa dikatakan mengakui Allah jika tidak mengakui undur-undur. Tuhan adalah Dzat yang maha pengasih dan penyayang. Dan Allah adalah tuhan. Kasih sayang Allah ditiupkan kepada setiap makhlukNya apapun bentuk makhluk itu tak terkecuali undur-undur. Dengan melihat undur-undur saya sedang berusaha melihat kasih sayang Allah. Dengan kata lain ketika saya sedang melihat undur-undur ketika itulah saya sedang bersyahadat” jawab Dul Pekok.

“kamu tidak hanya aneh tapi juga unik” celetuk ibu Dul Gembul yang juga ikut mendengarkan.

Dieng, 22 Agustus 2012

PASSSSS

Posted on

Banyak orang yang dikagumi oleh Dul Pekok baik ia seorang tokoh yang terkenal maupun hanya ordinary man (orang biasa) yang tidak dikenal. Ia mengagumi seseorang karena pada diri orang itu ada “suatu hal”  yang hebat yang lebih dari orang lain. ‘suatu hal’ itu bisa saja hanya satu atau lebih diantara “banyak hal” yang membentuk seseorang. Dan “suatu hal” itu tidak memperngaruhi penilaiannya pada “hal lain” selain “suatu hal” tersebut. Jadi Dul Pekok mampu membedakan “hal-hal” yang ada dalam seseorang, mampu menyekat antar “hal-hal”, dan memberi penilaian secara proporsional.

Maksudnya Dul Pekok itu kalau mengagumi itu proporsional. Tepat pada tempatnya. Misal, Dul Pekok mengagumi sesosok musisi indonesia yaitu Ahmad Dhani. Yang ia kagumi adalah Ahmad Dhani sebagai seniman atau musisi yang memproduksi suatu karya atau lagu. Jadi yang dikagumi Dul pekok adalah sisi ke-seniman-an Ahmad Dhani. Mengenai hal-hal diluar sisi ke-seniman-an Ahmad Dhani tidak mempengaruhi rasa kekaguman Dul Pekok. Banyak orang yang beranggapan bahwa Ahmad Dhani adalah antek zionis, Ahmad Dhani itu sombong, arogan dll. Bagi Dul Pekok apa hubungannya antek zionis dan ke-seniman-an?, apa hubungannya kesombongan dan sisi ke-seniman-an?.

Sikap seperti itu dipelajari Dul Pekok dari riwayat Afandi seorang seniman dari Jogja. Afandi sangat menghormati Chairil Anwar sebagai sastrawan tapi ia tidak menghormati Chairil Anwar sebagai manusia karena pernah suatu saat Chairil Anwar sedang membaca buku, ketika ibunya datang ia melemparkan buku itu pada ibunya.

            “Lantas, yang tidak proporsional seperti apa?” tanya Dul Butun.

            “Orang yang mengatakan ‘aku tidak menyukai lagu-lagu Dhani karena ia sombong’. Orang tersebut mencampur adukkan antara kepribadian dan karya. Contoh lain, Kamu pernah mendengar tentang Ibnu Taimiyyah? Hanya karena ia berpendapat tawassul itu tidak boleh, semua pendapatnya ditolak oleh orang-orang yang pro tawasul. Dalam kasus ibnu taimiyyah tersebut orang-orang yang pro tawasul menunjukkan ke-tidak sportif-an akademik, hal itu hanya menunjukkan kebodohan mereka. Seperti ini yang tidak proporsional. Contoh lain lagi, Kamu tahu tentang PKI di indonesia, Lenin dan Stalin di Uni Soviet, Mao di China yang berhalauan komunisme? Karena kelakuaan mereka orang-orang jadi phobia dengan komunisme dan menganggapnya ideologi iblis yang tidak ada positifnya jika di praktekkan padahal komunisme tidak hanya satu aliran dan semua aliran komunis punya cita-cita sangat mulia. Seperti ini yang tidak proporsional. Memarjinalkan anak hasil hubungan gelap dari pergaulan, padahal ia tidak salah apa-apa yang salah adalah ibunya. Seperti ini yang tidak proporsional. Memasukkan orang dalam perusahaan atau dalam lembaga apapun hanya karena  punya hubungan dekat tanpa disertai skill yang mumpuni. Seperti ini yang tidak proporsional. Ada seseorang membenci A karena rasa bencinya terhadap A orang tersebut membenci keluarga A dan teman-teman A. Seperti ini yang tidak proporsional”.  Jawab Dul Pekok.

Dieng, 4 Agustus 2012

Logika Kandang Jangkrik

Posted on

 

Salah satu cara mengidentifikasi agama seseorang dengan melihat ekspresi bahasa syukurnya. Jika melihat di TV ada seorang artis atau siapapun yang nongol di situ mengucapkan “Alhamdulillah” berarti orang itu muslim. Jika yang muncul dari mulutnya “Puji Tuhan” berarti orang itu kristiani.

“ ‘Alhamdulillah’ dan ‘puji tuhan’ berbeda. Alhamdulillah milik orang islam dan puji tuhan milik orang Kristen” kata Dul Kempong pada suatu sore di depan Dul Pekok yang sedag asik nggambari rokoknya dengan lelet kopi.

“Sama” bantah Dul Pekok.

“Sama gimana?. Berbeda dong. Lha wong itu sudah bahasa agama masing-masing kok” kejar Dul Kempong.

“Alhamdulillah kan bahasa arab, kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia artinya puji tuhan.” Jawab Dul Pekok.

“memang, tapi keduanya tidak hanya symbol bunyi yang berbeda bahasa. Keduanya sudah menjadi symbol-simbol agama. Harus dijaga di wilayah masing-masing gak boleh saling melangkahi. Kacau nanti. Kamu pasti pernah dengar omongane wong arab ‘barang siapa menyamai suatu kaum berarti ia termasuk dalam kaum itu, aku lupa itu hadis atau pepatah arab’ orang islam mengucapkan “puji tuhan” itu bisa dianggap Kristen”. Ucap Dul Kempong.

“Aneh. Itu kan di sini. Lha kalau di arab bagaimana?. Secara subtansi keduanya sama perbedaannya hanya pada bajunya. Kata-katamu yang terakhir tadi aneh banget. Logika macam apa itu? Logika kandang jangkrik. Menganggap seorang muslim menjadi Kristen gara-gara mengeluarkan “puji tuhan”. Bingung aku. Coba kamu jawab pertanyaan-pertanyaaku ini. Kalau saya masuk kandang kambing apa lantas saya menjadi kambing?. Kalau ada kambing yang berbicara dengan bahasa manusia apa akan dianggap manusia?. Kalau ada kiai berpakaian preman ia akan jadi preman? Apa kalau ada orang Kristen berbahasa arab apa ia akan jadi orang islam, karena arab identik dengan islam?” kata Dul Pekok. Penyakitnya kumat. Kalau sudah nyerocos tak ada titik komanya.

“logika kandang jangkrik” lanjut Dul Pekok. “kamu tahu rujak kan? Elemen dasar pembentuk makanan yang namanya rujak adalah irisan buah-buahan yang  dibumbui sambal kacang pedas. Jika kamu menggunakan logika yang sempit nanti kamu akan mengira es buah adalah rujak, karena sama-sama dari buah-buahan. Yang lebih keterlaluan sempitnya jika kamu mengatakan nasi goreng pedas, soto, bakso, dan makanan-makanan lain yang pedas adalah rujak, hanya karena sama-sama pedas. Itu kan tolol” selesai sudah omongan Dul Pekok.

Dul Kempong ngloyor pergi. Sumpek ndengerin omongan Dul Pekok

Kedai Nagata, 30 Juni 2012